Saham di kawasan Asia pada hari Senin, 24 Januari 2022 melemah, dan U.S. equity futures rebounded karena investor mempertimbangkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih agresif. Treasury yields dengan tenor 10 Tahun mengalami kenaikan satu basis point menjadi 1,77%. Harga minyak mentah juga melanjutkan penguatan. Berdasarkan data bloomberg pukul 09:06 WIB, minyak mentah WTI Crude menyentuh harga USD86,01 per barel dan Ice Brent Crude USD88,83 per barel.

Fokus utama investor saat ini adalah Federal Open Market Committee (FOMC) meetings yang akan diselenggarakan pada tanggal 25 – 26 January 2022. Menjelang FOMC, investor meyakini adanya tanda kenaikan suku bunga dan pengurangan neraca Federal Reserve untuk menekan laju inflasi. Kemungkinan pengurangan stimulus moneter yang lebih agresif, yang akan menjadi bagian dari FOMC meetings, akan mengubah outlook ekonomi dan pasar keuangan. Arah kebijakan Federal Reserve, akan tercermin melalui treasury yields.

Selain dari The Fed, rilis laporan keuangan emiten untuk periode tahun 2021, juga akan menjadi katalis pasar saham. Investor akan melakukan penyesuaian harga saham terhadap kinerja keuangan emiten. Kinerja keuangan emiten yang berada dibawah ekspektasi investor, akan membebani harga saham. Selain itu, kenaikan harga komoditas yang didukung oleh rally harga minyak, juga menjadi pemicu tekanan ekonomi global yang menjadi pertimbangan investor.